Perhatian! Postingan ini mengandung spoiler anime dan manga The Promised Neverland (Yakusoku no Neverland).
Jumlah Episode: 12
Sumber: Manga
Genre: Fantasi, Misteri, Sci-Fi, Suspense
Studio: CloverWorks
Skor MAL: 8.49
Jadwal Tayang: Musim Dingin 2019
Skorku: 9/10
Review:
Waktu anime ini pertama rilis, aku udah sering dengar hype-nya, tapi dulu aku gak begitu tertarik buat nonton.
Dan waktu season 2-nya keluar, aku juga sering nyimak komplain dari fans-fansnya. Berdasarkan banyak sumber, bisa dibilang The Promised Neverland season 2 adalah salah satu tragedi adaptasi anime paling disayangkan di zamannya.
Aku yang bahkan gak nonton sama sekali pun tau kejadian yang bikin nama studio CloverWorks jadi jelek ini.
Beberapa hari yang lalu, waktu aku sedang liat-liat list anime yang belum aku nonton, aku jadi kepo sendiri sama anime ini. Apalagi aku juga pernah nonton analisis manganya, How The Promised Neverland Lost Its Way, A Complete Review of TPN's Manga oleh Lowart.
Tapi untungnya, aku sengaja skip analisis arc awal alias plot utama season 1 untuk jaga-jaga kalau suatu hari aku tertarik nonton season 1. Dan aku bersyukur banget sempat berpikiran begitu, karena keputusan itu bikin aku sangat menikmati pengalaman nonton anime ini untuk pertama kali.
Walau aku udah dapat spoiler berat soal insiden Conny, Ray anaknya Isabella dan rencana kabur mereka yang berhasil, aku gak tau detailnya. Jadi twistnya tetap nendang buatku.
Oke, waktunya membahas kelebihan dan kekurangan dari anime The Promised Neverland ini.
Pros:
1. Antagonis utama yang luar biasa
Habis nonton anime ini, Isabela langsung masuk daftar antagonis favoritku, bersama dengan Askeladd dari Vinland Saga, Macht dari Frieren: Beyond Journey's End dan Bondrewd dari Made in Abyss.
Mungkin bakal ada yang berpendapat kalau Isabela ini morally grey, tapi aku punya alasan kenapa aku masukin dia dalam pure evil (di season 1).
Isabela gak pernah bermaksud untuk menolong pelarian anak-anak Field Grace. Isabella emang bersimpati karena bernasib sama, tapi kalau seandainya ia berhasil mencapai lokasi Emma dkk lebih awal, dia pasti akan menggagalkan pelarian mereka.
Satu-satunya alasan kenapa Isabela menyerah di akhir adalah karena mereka berhasil kabur. Mirip dengan bagaimana monolog Sister Krone yang percaya pada trio Emma-Norman-Ray saat maut sudah di depan mata.
2. Emma-Norman-Ray, tiga tokoh sentral yang saling melengkapi
Trio yang juga berperan sebagai perspektif utama penonton ini memiliki jalan pikiran dan prinsip yang berbeda-beda, dengan kelemahannya masing-masing, menjadikan dinamika mereka lebih kompleks dan menarik.
Emma, si paling optimis dan idealis. Tidak ingin mengorbankan seorang pun dan berperan sebagai pijakan moral bagi tokoh-tokoh lainnya.
Ray, dia cerdas, realistis, tapi terlalu pesimis. Walaupun dia juga sayang pada seluruh keluarganya, ia memutuskan untuk menyerah dalam menyelamatkan mereka, hanya fokus pada Norman dan Emma.
Norman, keseimbangan. Dia kayak gabungan Ray dan Emma. Bisa berpikir realistis tapi juga tetap melakukan segalanya demi menggapai harapan yang ideal. Gak overly optimistic ataupun pesimistic. Jadi dia kayak berperan sebagai jembatan antara Emma dan Ray. Dia karakter favoritku di anime ini:D
P.S. Desainnya abis time skip di manga keren abis.
3. Stakes yang tinggi
Mereka cuma punya waktu kurang dari 2 bulan sebelum anak selanjutnya dikirim. Belum lagi perubahan rencana di tengah-tengah cerita karena perkembangan situasi yang tidak terduga. Lawan mereka adalah orang dewasa dan iblis. Mereka nyaris tidak tahu apa-apa terkait dunia luar. Ada banyak anak yang masih sangat kecil.
Semua hal ini menjadikan stakes The Promised Neverland sangat tinggi yang bikin aku deg-degan terus.
4. Drama dan tragedi
Semua tokoh di anime ini punya tragedi masing-masing, termasuk para antagonis, Sister Krone dan Mama Isabella. Serius, aku terus-terusan nangis tiap kali nonton ulang kematian Sister Krone dan backstory Isabella;)
6. Adu strategi yang seru
Mengingat tokoh utama kita adalah bocil-bocil jenius melawan antagonis yang tidak kalah licik, tentu saja bakal banyak kejutan dan twists dimana-mana.
Perang strategi untuk menemukan pengkhianat, melatih diri tanpa ketahuan, menyusun rencana untuk mengelabui Mama. Semuanya bener-bener asik dan bikin susah untuk berhenti nonton.
7. Artstyle dan musik yang indah sekaligus mencekam
Artstyle dan art direction-nya membuat suasana makin mengerikan. Terutama ekspresi Sister Krone dan Isabella. Pas mereka tiba-tiba muncul di layar... Jantungan langsung dibuatnya;)
Dan untuk musik, aku suka banget lagu Isabella's Lullaby. Apalagi waktu diputar di episode terakhir. Merinding banget. Nulis review ini juga sambil dengerin lagunya, biar makin dapat feel-nya, lol.
Cons:
Aku gak punya banyak komplain sih, tapi kalau mau nitpick, mungkin fakta bahwa tokoh utama dari anime ini adalah bocah-bocah berumur 11/12 tahun ke bawah. Jadi agak kurang realistis. Tapi aku pribadi gak terlalu mempermasalahkan. Toh, fiksi ya fiksi. Selama meyakinkan, ya gaslah.
Lagipula, sudah dijelaskan terlebih dahulu kalo ketiganya adalah anak-anak dengan kepintaran yang gak kaleng-kaleng. Jadi gak tiba-tiba pintar gitu aja.
Tapi aku tahu kalau ini bakal jadi isu untuk beberapa orang dan jadinya gak bisa menikmati cerita ini secara keseluruhan.
Dan kekurangan yang kedua adalah season 2-nya yang sangat-sangat populer. Dengan alasan yang buruk, sayangnya.
Aku sendiri udah memutuskan gak bakal nonton setelah banyak liat review-review.
Season 1 sudah bagus dan aku bisa anggap akhir The Promised Neverland sebagai open ending.
Kalau teman-teman tertarik melanjutkan, bisa baca manganya saja. Walaupun ada beberapa kritik terkait dengan manganya, terutama arc menjelang akhir, tapi dibandingkan season 2, masih lebih baik (katanya). Apalagi kalau teman-teman sudah terlanjur suka dengan para tokohnya dan ingin kembali bertemu dengan mereka.

0 Komentar