Again, i'm back with another Orihara Ran's novel review!!!
Semoga nggak bosen ngeliatin aku fangirling ya, hehe. Kali ini, aku akan mereview novel pertama dari Alphabet Seriesnya Kak Ran yang berjudul Aidoru no Sekai ni Yoroshiku. Selamat membaca^^
Identitas Buku:
Judul: Aidoru no Sekai ni Yoroshiku
Pengarang: Orihara Ran
Penerbit: Diva Press
Editor: Elis Widayanti
Tata Sampul: Ferdika
Tata Isi: Violet Vitrya
Pracetak: Antini, Dwi, Wardi
Jumlah Halaman: 496 hlm
Cetakan VI, Maret 2013
Blurb:
“Berdoa pada Tuhan, percaya pada diri sendiri, kalahkan, singkirkan, hancurkan, dan remukkan rintangan itu. Dan yang terakhir, tersenyumlah menuju kemenangan!” Ia mengucapkan motonya di dalam hati…
***
Gadis desa yang ceria, kuat, dan rendah hati itu bernama Sakurada Mine. Ia dibesarkan seorang diri oleh kakeknya, Sakurada Hiroshi, di sebuah desa yang berjarak lima belas mil arah selatan kota Nara, Distrik Kinki, Jepang.
Selama dalam asuhan sang kakek, Mine tidak pernah tahu bahwa lelaki tua itu adalah veteran jagat hiburan Jepang yang memiliki pesona dan kekuasaan lebih dari lima puluh tahun. Pun, ia tidak pernah tahu bahwa kedua orang tuanya, Sakurada Youji dan Maki Ema, adalah pasangan artis berbakat yang meninggal di puncak kariernya sebab kecelakaan.
Hingga suatu hari, tepat saat ia genap berusia lima belas tahun, sang kakek menghilang dari rumah. Ia hanya meninggalkan sepucuk surat yang menerangkan siapa jati diri Mine sesungguhnya dan apa yang harus dilakukannya guna membersihkan nama keluarga Sakurada yang sempat tercoreng saat Mine dilahirkan.
Berbekal petunjuk itu, Mine berangkat menuju Tokyo. Dengan menyamar sebagai Fukuda Mine. Ia berusaha keras untuk menjadi artis besar dengan memasuki sekolah khusus para artis: A Gakuen. Tujuannya satu: membersihkan nama keluarga Sakurada seperti yang diamanatkan kekeknya.
Mampukah Mine mewujudkan misinya? Akankah ia kembali bertemu dengan sang kakek? Bagaimana pula kisah cintanya dengan salah seorang artis papan atas Jepang?
Ikuti petualangannya dalam novel yang tak sekadar menyajikan cerita berlatar kehidupan para kaum muda Jepang saja ini, tetapi juga lebih segar sebab disajikan dengan bahasa yang lincah khas komik yang diramu dengan alur laiknya kisah detektif. Membuat siapa pun tak akan bosan membacanya.
Selamat membaca, selamat tertawa sekaligus tercengang bersama novel yang menjanjikan “rasa” yang berbeda ini!
.
Ulasan:
Pas bukunya sampai di rumah, aku kaget sih. Nggak nyangka kalau novelnya bakal setebal itu. Nyaris 500 halaman! Awalnya aku nggak yakin bisa baca dalam sehari. Tapi pas udah mulai baca, malah nggak bisa berhenti dan berhasil kuselesaikan sekali duduk.
Novel ini dimulai dengan kehidupan biasa Mine dan kakeknya di desa tempat mereka tinggal dan pengungkapan soal rahasia keluarga Mine, dilanjutkan dengan kepergian Mine ke Tokyo dan dimulainya usaha keras Mine di A Gakuen untuk menjadi bintang papan atas Jepang.
"Orang-orang yang bilang kalau pilih-pilih teman adalah hal yang buruk, menurutku itu ucapan nggak bertanggung jawab. Apa gunanya kita berteman dengan semua orang tapi nggak membawa dampak baik?" -hlm 332.
Gaya bahasanya super kasual. Bener-bener beda sama karya beliau selanjutnya, Bokutachi no Unmei yang punya gaya lebih baku. Karena nggak ngira sama sekali, aku jadi kaget pas pertama membacanya.
Ditambah lagi, banyak humor ala jepang bertebaran. Bagi yang belum pernah nonton anime atau baca manga, mungkin bakal kerasa garing dan aneh. Aku aja nggak begitu masuk sama komedi di narasinya ini.
"Pada dasarnya, manusia itu bisa sangat berubah atau tetap tidak akan pernah berubah. Bukankah ini memang sebuah pilihan?" -hlm 146.
Seperti yang sudah dijelaskan pada blurb, novel ini memuat unsur akting yang kental. Ada bermacam-macam audisi yang akan diikuti Mine, seperti drama, pemotretan model dan produksi sebuah PV. Jadi pembaca mendapat beragam insight dan analisis akting sepanjang cerita. Ada juga banyak istilah seputar dunia perfilman, terutama dunia perfilman Jepang.
Favoritku yaitu bagian Suzuki Seira. Aku kagum dengan pemecahan dan sudut pandang Kak Ran soal cerita Suzuki Seira ini. Nggak kusangka-sangka, ternyata itu yang sebenarnya terjadi. Two thumbs up!!
"Meski terkesan indah, tapi cinta yang diawali oleh godaan fisik tetap tidak bisa bertahan lama." -hlm 253.
Ada 3 tokoh sentral dalam novel ini yaitu Yasufuku Hyogo, Sakurada Mine dan Asaoka Ichi. Hyogo dan Ichi adalah teman dekat sekaligus idola papan atas yang populer.
Yes, bakal ada cinta segitiga antara mereka. Sejujurnya, aku nggak pernah suka trope begini, but i'll let it pass since this is my favorite author's book. Karena aku nggak mau naik kapal yang bakal tenggelam, aku udah cek lebih dulu siapa yang bakal menang. Of course, aku nggak bakal bilang siapa karena itu spoiler. Bagi yang pingin tau, liat aja siapa pemeran utama di novel Bokutachi no Unmei:)
Tapi pas baca, aku ngerasa si male lead di novel ini kurang menonjol, kesannya dia lebih kayak temennya male lead. Dibanding dengan si second lead yang momennya sama Mine lebih berkesan dan personal. Kalau aja aku nggak tau siapa male leadnya dari awal, pasti aku bakal salah ngira.
Dan sayangnya, hubungan romantis Mine dan si male lead ini dimunculkan terlalu tiba-tiba menjelang akhir cerita, nggak dibangun pelan-pelan dari awal, jadinya kurang dapet chemistrynya gitu.
Aku juga nggak dapet kesan 'dingin' dan 'cool' dari Ichi. Tindakannya justru jarang mencerminkan sifat 'cool' itu sendiri. Penggambaran karakternya kurang berhasil. Hanya sekadar tell, bukan show.
"Ada kalanya, apa yang kita lihat dari lensa bisa lebih jujur daripada kita melihatnya dengan mata telanjang." -hlm 194.
Hal lain yang menggangguku yaitu Mine diceritakan begitu berbakat. Dia belum pernah mempelajari akting sama sekali, tapi kemampuannya melampaui banyak orang yang udah belajar akting dari kecil.
Aku termasuk orang yang percaya kerja keras lebih penting dari bakat. Jadi ngerasa kurang nyaman aja sih. Seolah-olah insting Mine sudah langsung luar biasa berkat orang tuanya dulu juga aktor/aktris berbakat.
"Intinya, karena kamu suka, kamu jadi bisa melihatnya dari sisi terbaik yang ia punya. Sedangkan orang lain tak bisa melihatnya." -hlm 252.
.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa aku terus membeli novel lama Kak Ran, padahal punya banyak kekurangan dalam segi penulisan dan karakterisasi? Selain karena aku penggemar berat beliau, bisa dibilang aku ingin menjadikannya motivasi.
Aku pingin jadi penulis novel. Namun, membaca sebuah karya bagus kadang menjadi pisau bermata dua. Aku suka novel Kak Aranindy, tapi disaat yang sama, timbul rasa tidak percaya diri melihat betapa rapi dan kerennya novel yang ditulisnya.
Jadi dengan membaca karya-karya awal beliau, aku berusaha menyadarkan diri, kalau Kak Ran juga berproses. Beliau nggak langsung perfect dalam menulis, beliau punya perkembangan. Jadinya, itu sedikit banyak menenangkanku juga.
Apalagi, walau gaya penulisannya masih belum sebagus sekarang, tapi gaya analisisnya nggak jauh beda sama sekarang. Super page turner juga. Gimana mungkin bisa aku lewatin?!!
Jadi, demikianlah ulasan serta curahan hatiku tentang novel ini. Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini. Sampai jumpa di ulasan selanjutnya:)

0 Komentar