[Book Review] Fiat Justitia (Cabaca) - rinoevans

Halo, teman-teman. Kali ini, aku akan mengulas sebuah novel dari aplikasi cabaca. Bagi yang belum tau, Cabaca ini adalah sebuah platform lokal dimana kamu bisa menulis ataupun membaca novel secara online. Pilihan genrenya juga beragam.  

Nah, Fiat Justitia ini adalah novel pertama dari Cabaca yang kubaca. Dan berikut impresi dan ulasanku terkait novel ini. 




Identitas Buku:

Judul: Fiat Justitia

Pengarang: Rino Evans

Jumlah: 15 bab

Baca di Cabaca


Blurb:

Salam pembuka belum selesai diucapkan, tetapi tubuh sang presiden sudah ambruk dari podium. Sebuah peluru telah diluncurkan ke dadanya. Acara peringatan 100 Hari Masa Kerja Presiden itu berakhir dengan kekacauan. Peristiwa penembakan yang menimpa Eddie Sugiantoro diduga dimaksudkan untuk menjatuhkan lawan politiknya, Barkah Cahya Purnama. Bayu, seorang jurnalis yang pantang menyerah, berusaha mengungkap kebenaran di balik kasus itu bersama temannya yang seorang pengacara andal, Tobing, dan dua mahasiswa bernama Joy dan Alit. Namun, penyerangan-penyerangan misterius dilancarkan untuk menghalangi usaha-usaha mereka.

Enggan tunduk pada upaya pembungkaman, strategi baru dilakukan. Hashtag #FiatJustitia diciptakan. Dugaan rekayasa kasus penembakan itu kembali dibicarakan. Walau begitu, penyerangan-penyerangan terus terjadi, dan setiap penyerangan mengarahkan Bayu pada kenyataan yang sesungguhnya.


Ulasan:

Gimana blurbnya? Menarik kan? 

Itu juga yang pertama kali membuatku tertarik pada novel ini. Sejak baca seri Pulang dan Negeri Para Bedebah nya Tere Liye dan buku-bukunya Tsugaeda, aku jadi suka dan tertarik dengan novel yang mengangkat tema konspirasi politik dan pemerintahan. Karena itu, aku langsung klik sama novel ini.

Awalnya, aku kira judulnya Flat Justice. Jauh banget, ya? 

Setelah aku searching, judul ini ternyata berasal dari kalimat Fiat Justitia Ruat Caelum yang berarti 'Hendaklah keadilan ditegakkan, walaupun langit akan runtuh'. Keren banget, ya? Dan kalimat itu juga yang menjadi pondasi dalam cerita ini. 

Novel ini menyinggung banyak hal soal ketidakadilan di dunia politik. Sekilas, terasa seperti menyindir. Apalagi karena tokoh utamanya adalah wartawan, kata-katanya jadi lebih menusuk. 

Tempat dan tanggal kejadian selalu dituliskan di awal setiap transisi adegan, jadi aku nggak bingung menentukan timelinenya.

Ada tokoh-tokoh dari dunia nyata yang dimasukin, walau cuma sekilas, ngasih sepatah kata, kayak Pak Jokowi, Pak Jusuf Kalla. Juga nama pembawa berita yang dipelesetin dari namanya Najwa Shihab. 

Aku suka gaya bahasanya. Mengalir dan mudah dicerna. Topik-topik berat dijelaskan dengan cukup sederhana, sehingga mudah dimengerti oleh orang awam.

Well, tema thriller korporasi seperti ini memang cukup sulit ditulis, karena mengangkat tema yang cukup berat dan tentu harus ada riset yang mumpuni. 

Dalam novel ini, proses persidangannya dituliskan dengan rinci. Waktu aku tanya, penulis sendiri bilang kalau beliau adalah orang yang berkecimpungan di dunia hukum, maka dari itu, tulisannya yang berkaitan dengan hukum tertulis dengan detail dan meyakinkan. 

Aku penasaran sama masa lalu Barkah dan Bayu. Kurasa bagus kalau diceritakan awal pertemuan mereka dan penyebab mereka saling percaya satu sama lain. 

Narasi cukup dominan dan terkadang ngasih nasihat gitu dengan pola tell, bukan show. Jadi terasa agak menggurui. Aku paham maksudnya baik, tapi karena ini adalah karya fiksi, penyampaiannya kurang smooth.

Aku sempat sangsi waktu ngeliat hanya ada 15 bab. Karena menurutku 15 bab terlalu sedikit untuk sebuah novel thriller korporasi yang biasanya rumit dan penuh konspirasi. Dan yah, ceritanya memang jadi lumayan sederhana. 

Dan karena tokohnya sedikit, jadi mudah menebak siapa dalangnya. Pengungkapan si dalang ini juga kurang nendang, nggak kerasa suasana intensnya.

Kadang, penulis memberikan too much information. Misalnya pas kemunculan pertama Tobing, terlalu banyak penjelasan soal pencapaian pribadinya yang kurasa nggak penting-penting amat. 

Dan sebagian tokoh disini kurang terasa karakterisasinya, kurang 'manusiawi' gitu. Seperti Alit Mahardini, anak perempuan presiden. Dia terlihat terlalu santai dan mendukung penuh penyelidikan Bayu yang cukup menyudutkan ayahnya, nggak ada galau-galaunya gitu. 

Walaupun dia merasa kesal pada ayahnya, paling tidak seharusnya masih ada rasa tidak nyaman dan sedih melihat ayah dalam keadaan tidak menguntungkan itu. 

Lalu penulisan isi pasal. Mungkin penulis bermaksud menulis dengan akurat, tapi kurasa itu tidak cocok dimasukkan bulat-bulat ke dalam sebuah novel. Jadi lebih baik tidak dituliskan semua isi pasalnya melainkan implementasinya saja dan hubungannya dengan cerita. 

Dan akan lebih bagus kalau tidak dijelaskan soal strategi penggunaan hashtag Fiat Justitia di blurb. Karena pembaca jadi terlanjur tahu dan jadinya kurang mengejutkan. Apalagi strategi ini termasuk bagian yang penting. 

Ada beberapa plot hole dan keganjilan dalam ceritanya. Dan sebagian besar sudah aku sampaikan rinci di kolom komentar cerita penulis.

Dari info yang aku dapat, penulis sendiri berencana membuat sekuel dengan Fiat Justitia ini sebagai permulaannya. Jadi, hal-hal yang kurang dan mengganjal sepertinya akan dijelaskan di sekuel tersebut.

Penulisnya sendiri ramah dalam menjawab pertanyaanku di kolom komentar. Beliau juga bersedia menerima kritik dan saran. Ini adalah poin plus tersendiri buatku:)

.

Demikian ulasan novel Fiat Justitia dariku. Semoga bermanfaat. Terima kasih kepada pihak Cabaca atas kesempatannya mengulas novel ini^^

Posting Komentar

0 Komentar