Selain penggemar berat anime dan manga, aku juga pembaca manhwa yang cukup rajin. Walau punya beberapa isu terkait manhwa secara umum, aku biasanya suka art style penuh warnanya yang kontras dengan manga yang monokrom.
Sebelum baca Seasons of Blossom, aku udah baca webtoon Girl's World yang juga berlatar tempat di SMA. Aku suka banget Girl's World dan tema persahabatan yang diangkat (sebelum masuk ke drama percintaannya;) Jujur, aku punya komplain terkait cinta segitiga di Girl's World yang gak bisa kubahas di sini karena pasti bakal kepanjangan.
Tapi begitu baca Seasons of Blossom, posisi Girl's World sebagai manhwa high school terbaik buatku langsung tergeserkan. Selain unsur persahabatan dan hubungan platonik yang kuat (faktor utama yang bikin aku suka Girl's World), cara komikus Seasons of Blossom membangun hubungan romantis dalam plot juga sangat rapi dengan drama yang tidak berlebihan. Belum lagi angst-nya yang bikin hati hancur berkeping-keping;)
Di postingan kali ini, aku mau mengulas ke-empat bagian dari Seasons of Blossom sesuai urutannya di manhwa. Nanti aku juga bakal kasih peringkat bagian mana yang menurutku paling bagus.
Sebelum itu, peringatan bagi yang belum membaca seluruh chapter dari Seasons of Blossom. Tulisan ini mengandung spoiler berat, jadi kalau kamu berencana untuk membacanya, sebaiknya mundur dulu ya.
Nah, tanpa berbasa-basi lagi, mari kita mulai dari bagian yang bikin aku paling hang over habis baca.
1. Spring (Bomi's Flower)
Pembuka yang super-duper manis dengan trope favorit sejuta umat, fake dating dengan male lead yang dingin, gak banyak bacot dan super ucul serta female lead yang tampak naif di awal tapi ternyata lebih kompleks dari yang terlihat.
Mari kita sambut, Bomi dan Jinyeong.
Aku serius waktu bilang kalau bagian Spring ini bikin aku gagal move on dan hang over sampai-sampai gak mau lanjut baca ke bagian selanjutnya saking gak mau pisahnya dengan mereka.
Bomi's flower adalah definisi sempurna dari konsep sederhana yang ditulis dengan baik sekali. Sekilas, gak ada yang gila dari bagian ini. Trope-trope-nya familiar dengan lingkaran pertemanan dengan kisah cinta dengan satu sama lain.
Yang bikin aku cinta banget sama bagian ini adalah cara sang komikus dalam menambah 'bumbu' untuk trope yang udah sering banget muncul di cerita-cerita romantis remaja. Drama yang diminimalisasi juga menjadi nilai plus-plus bagiku. Dan love triangle-nya juga dihandle dengan baik banget.
Sekilas info, aku benci-benci-benci banget dengan cinta segitiga. Drama yang bisa dihasilkan sama trope ini bikin aku muak banget. Jadi biasanya aku selalu ngehindarin cerita yang punya fokus sama cinta segitiga dengan beberapa pengecualian khusus, yaitu 1) aku penggemar berat komikusnya, 2) alur utamanya bagus dan cinta segitiganya cuma plot sampingan, 3) pseudo love triangle.
Pseudo love triangle ini maksudnya cinta segitiga yang bukan cinta segitiga karena jelas banget siapa yang bakal 'menang' di akhir dengan memperhatikan fokus dari narasinya.
Seasons of Blossom masuk dalam kategori ini. Walau kelihatan kayak ada cinta segitiga antara Jinyeong-Bomi-Jaemin, gak butuh jadi sherlock untuk tau kalau Bomi's Flower adalah kisah cinta antara Jinyeong dan Bomi.
Bicara soal Bomi dan Jinyeong, aku suka karakterisasi mereka. Aku pernah liat komentar bilang kalau Bomi itu terlalu datar dan gak menarik untuk ukuran female lead karena sikapnya yang 'terlalu baik'. Dan luar biasanya, memang itulah tujuan dari komikusnya. Dengan sikap pasif Bomi, masa lalu dan ledakan Bomi nantinya membuat klimaks bagian ini jadi lebih menarik.
Dan Jinyeong. Jelas banget kalau dia bakal dapat banyak fangirls. Sikapnya yang pendiam, anti basa-basi, cool tapi aslinya mudah salting dan diam-diam perhatian itu resep utama buat male lead utama yang paling besar fanbase-nya. Aku suka sikap no bullshit-nya Jinyeong sehingga minim miskomunikasi (bukan berarti gak ada, tapi gak dipanjang-panjangin).
Dan seperti yang udah kubilang, aku cinta banget sama hubungan platonik. Dan Seasons of Blossom benar-benar mencukupi dosis hubungan platonik-ku untuk setahun penuh dengan berbagai dinamika pertemanan yang kompleks dan menghangatkan hati.
Sebut aja, Bomi-Seonhui yang saking selflessnya pingin mengorbankan diri demi satu sama lain, Seonhui-Jinyeong yang membentuk pertemanan aneh walau sering adu mulut, Bomi-Jaemin yang berusaha untuk menavigasi perasaan mereka masing-masing, Jaemin-Jinyeong yang aku gak ngira sama sekali tapi suka banget interaksi mereka, grup Jinyeong dan grup Jaemin. Chef kiss.
Aku sempat ngeliat komentar di webtoon versi Inggris yang bilang kalau dia ngerasa Bomi's Flower agak 'berbeda' dibandingkan dengan ketiga bagian selanjutnya yang jauh lebih berat dari segi tema dan alur utamanya. Kayak out of place, gak pas aja, katanya.
Aku paham bagaimana sentimen ini muncul untuk sang pembaca. Tapi aku punya pembelaan soal ini. Menurut interpretasiku, Bomi's Flower adalah status quo dari Seasons of Blossom. Bagian pembuka ini menunjukkan apa yang dimaksud dengan 'normal' dalam cerita ini.
Jadi tidak peduli sebetapa gelap dan menyedihkannya konflik yang dihadapi para tokoh di bagian selanjutnya, kita pembaca akan selalu punya pegangan kalau dunia ini gak seburuk itu.
Kalau segala kesulitan itu bukanlah hal 'normal'.
Kalau segalanya bisa jadi lebih baik karena adanya kedamaian dalam Bomi's Flower.
Apalagi Spring adalah musim penuh cinta dan kehangatan.
Dan Bomi's Flower sebagai pembuka dari manhwa ini merupakan set-up untuk bagian-bagian selanjutnya. Tentang Seonhui dan perasaan bersalahnya. Tentang konflik batin Jaemin dan sejarah tragisnya yang akan dibahas di bagian Summer, Hamin's Flower.
Kalau Bomi's Flower adalah dosis kebahagiaan untuk setahun, Hamin's Flower adalah dosis yang nyaris menetralkan semua kebahagiaan itu dalam sekejap.
Here we go. Let's open the gate of pain.
2. Summer (Hamin's Flower)
Mulai dari bagian kedua ini, komikus menyajikan tema-tema yang sudah dikasih hint sebelumnya, dari cerita Jaemin dan masa lalu Bomi, yaitu beban berlebihan yang ditimpakan oleh orang tua kepada anaknya.
Pasangan utama dalam Summer adalah Hamin dan Somang dengan fokus utama flashback di masa lalu, tepatnya saat Hamin masih hidup. Bersamaan dengan cerita lama Hamin dan Somang, kita juga diperlihatkan kisah Jaemin dan Somang masa kini yang masih terjebak dalam masa lalu.
Aku kagum banget dengan cara komikusnya dalam mengupas tema berat begini. Dan konklusi yang diberikan untuk Jaemin dan Somang juga sangat mengharukan. Apalagi bagian klimaks waktu Jaemin dan Somang bicara dari hati ke hati sambil nangis TT
Aku senang karena jelas kelihatan kalau komikusnya sangat berhati-hati dalam mengangkat tema ini dan berusaha ngasih pesan untuk bertahan, terutama untuk orang-orang yang kesulitan dalam menjalani hidup dengan menunjukkan betapa menderitanya para keluarga dan orang-orang terdekat yang kehilangan orang yang mereka sayangi dengan cara seperti itu.
Tapi di saat bersamaan, komikus juga tidak menghakimi mereka yang terdesak hingga membuat pilihan terakhir seperti Hamin. Penggambaran yang seimbang antara mereka yang pergi dan yang ditinggalkan membuat pembaca paham perspektif kedua pihak.
Hal lain yang aku suka adalah betapa manusianya para tokoh di sini. Orang tua Hamin dan Jaemin, terutama ibunya adalah penyebab utama dari stres berat Hamin. Tapi komikus berusaha menunjukkan alasan kenapa mereka berbuat begitu. Bukan sebagai pembelaan, hanya latar belakang. Jadinya gak dua dimensi.
Apalagi perkembangan karakter ayah dan ibu Jaemin setelah kepergian Hamin juga bagus banget. Mereka masih berbuat kesalahan, seperti ibu Jaemin yang saking hancurnya menjatuhkan beban berat di pundak Jaemin yang masih kecil, membuatnya harus menjadi dewasa lebih cepat dan ayahnya yang kayak bingung harus bertindak seperti apa setelah kejadian itu.
Tapi mereka berubah sedikit demi sedikit. Bukan berarti kesalahan mereka terhadap Hamin sebelumnya terhapuskan, tapi perubahan seseorang menjadi lebih baik perlu diapresiasi.
Ibu Jaemin memutuskan untuk menikah lagi demi mengurangi beban Jaemin, yang sayangnya Jaemin salah mengerti dan berpikir kalau ibunya tidak membutuhkannya lagi.
Ayah Jaemin, walaupun awkward berusaha untuk mendukung Jaemin dengan caranya sendiri. Mereka gak sempurna, tapi mereka menunjukkan usaha. Dan aku apresiasi komikusnya yang menambah kompleksitas dalam karakterisasi orang tua Jaemin.
Bakal lebih mudah buat ngebikin mereka jadi jahat sepenuhnya, pembaca pun bakal seneng dapat justifikasi buat ngebully mereka di kolom komentar. Tapi dengan penggambaran yang sangat manusia ini, Hamin's Flower benar-benar terasa unsur realisme-nya, daripada sekadar tokoh yang berbuat jahat karena dia terlahir jahat.
Memang di kolom komentar, pendapat para pembaca juga bercampur aduk. Ada yang simpati terhadap orang tuanya, ada yang benci mereka dan gak berpikir kalau mereka bisa berubah, ada pula yang gak suka sama simpati yang mereka terima. Apapun itu, semua orang punya alasan kenapa mereka bersimpati atau pun benci dengan tokoh-tokoh ini.
Aku gak akan menyangkal opini-opini ini. Tapi secara pribadi, aku selalu menghargai orang yang mau mengakui kesalahan dan berubah menjadi lebih baik, karena pilihan itu sangat sulit dilakukan akibat skeptisme dari orang lain yang sangat bisa dimaklumi mengingat kesalahan yang mereka lakukan.
Somang masa SMA sendiri menurutku pribadi agak plain, tapi gak masalah, karena fokus utamanya ada di Hamin dan konflik batinnya. Aku suka Somang dewasa karena rasa pengertiannya yang membantu menyembuhkan luka di hati Jaemin dan memberikan closure untuk dirinya sendiri.
Dan untuk Hamin sendiri, aku suka bagaimana komikus menggambarkan sisi 'muka dua' Hamin yang gak terduga di awal cerita. Itu bikin dia jadi lebih terasa manusia, daripada sekadar orang yang super duper tabah dan baik dari sananya.
Hamin juga bisa frustasi. Hamin juga bisa mencaci-maki orang yang dia gak suka. Perbedaan Hamin yang sebenarnya dengan Hamin sempurna yang ada dalam pikiran Jaemin membuat pembaca paham betapa luar biasanya Hamin dalam menjaga topeng baik-baiknya. Bukan berarti Hamin sebenarnya gak baik. Justru sifat inilah yang bikin dia jauh lebih realistis.
Ada satu panel yang bikin aku nyesek banget waktu baca. Waktu Hamin ngeliat Somang yang mergokin 'teman-teman' Hamin yang menghinanya dari belakang.
Ekspresinya itu lho... Kayak bilang "Gak usah bikin ribut. Aku udah tau kok." TT
Hamin's Flower juga merupakan set up untuk cerita Seonhui dan Jaehyun. Jujur, aku gak ngira pasangan ini sama sekali. Meskipun Seonhui ditunjukin naksir Jaemin, aku gak nge-ship mereka karena Jaemin emang gak kelihatan tertarik. Apalagi, terlalu banyak rasa bersalah dibalik perasaan Seonhui kepada Jaemin, jadi emang lebih baik Seonhui memulai hubungan romantis dengan orang yang baru.
3. Autumn (Gaeul's Flower)
Masuk ke bagian selanjutnya, aku awalnya bingung kenapa cerita Subin-Gaeul dan Seonhui-Jaehyun diceritakan secara paralel. Di Hamin's Flower, korelasi Hamin-Somang dan Jaemin-Somang (bukan romantis) jelas. Mereka dua orang yang masih tertinggal di masa lalu karena Hamin. Tapi yang ini terasa gak ada hubungannya sama sekali.
Sampai akhirnya diungkapin kalau Subin itu kakaknya Seonhui. Aku kaget banget waktu mereka muncul di kamar mandi bareng. Twist yang simpel, tapi efektif. Interaksi mereka juga natural banget, ngingetin aku sama abangku yang juga sering berantem.
Di antara kedua pasangan ini, aku lebih tertarik sama Seonhui dan Jaehyeon. Mereka, terutama Seonhui udah muncul sejak awal, jadi udah ada kedekatan emosional sama mereka. Walaupun Gaeul udah muncul beberapa kali bareng Somang, tapi itu cuma diliatin sekilas, kayak Dongchae. Penasaran iya, kedekatan enggak.
Kita bahas satu-satu ya. Dimulai dari Seonhui dan Jaehyeon.
Seperti yang aku bilang sebelumnya, ini pasangan yang gak terduga. Tapi alasan kenapa Jaehyeon suka sama Seonhui udah dibangun sejak Hamin's Flower sedikit demi sedikit. Jadi pengakuannya di bagian ini gak aneh. Dan sikap no bullshit Jaehyeon ngingetin aku sama Jinyeong.
Apalagi dia orangnya tenang gitu. Walau lidahnya gak sepedes Jinyeong sih, lebih ke usil plus dewasa kayak Jaemin. Cocok untuk ngendaliin Seonhui yang liar dan agak kekanakan.
Aku gak punya banyak komplain soal bagian Jaehyeon-Seonhui. Mungkin kalo mau nitpick, aku bakal lebih suka kalau scene Seonhui mulai menyukai Jaehyeon di perbanyak. Emang ada ditunjukin, cuma kurasa bakal lebih meyakinkan kalau lebih padat lagi. Tapi ini bukan isu besar kok, cuma saran kecil aja.
Di sisi lain, plot Subin dan Gaeul sendiri punya banyak potensial. Sayangnya, banyak yang miss. Sewaktu baca bagian Gaeul yang nunjukin tendensi ingin balas dendam kepada Subin dengan pura-pura jatuh cinta padanya, aku semangat banget. Apalagi udah ditunjukin hint-hint kalau Subin sebenernya gak tahu tentang Uri yang mengkambinghitamkannya untuk membully Gaeul.
Aku ingin tahu bagaimana komikus akan mengeksekusi arah yang diambil Gaeul. Biasanya, korban seperti Gaeul gak akan ditampilkan dengan buruk dalam cerita karena tujuannya emang supaya pembaca simpati dan mau mendukung sang korban. Tapi dengan perkembangan awal ini, apalagi dengan percakapan Gaeul dan Somang, aku berpikir kalau komikus ini bakal mengeksplor sudut yang emang jarang diambil karena kompleks itu.
Sayangnya, aku berekspektasi terlalu tinggi. Subin tahu segalanya sebelum Gaeul berbuat sesuatu yang menyakiti Subin. Padahal aku penasaran apa yang akan terjadi kalau Gaeul, sebagai korban bullying ternyata mengambil keputusan yang salah dengan menyakiti Subin, yang memang terlalu naif, tapi tetap gak bisa disalahkan atas tindakan teman-temannya.
Aku paham sih, kenapa komikusnya gak berani ambil jalan ini. Cerita ini menunjukkan buruknya bullying dan selalu memvalidasi perasaan para korban, kalau mereka gak salah. Aku sangat menghargai tema tersebut diangkat dengan hati-hati untuk meningkatkan kesadaran.
Tapi sebagai pembaca, aku cukup kecewa karena aku sebelumnya percaya kalau komikus ini bisa mengeksplor tema korban yang berbuat salah ini dengan baik. Meskipun begitu, ini gak mengurangi respekku terhadap komikus. Hanya ekspektasi terlalu tinggi yang gak terpenuhi.
Antagonis utama, Uri juga merupakan konsep yang bagus dengan eksekusi yang gak matang. Satu hal yang menurutku kurang banget dari manhwa secara keseluruhan adalah keberadaan antagonis pure evil. Bukan tokoh dua dimensi dangkal yang jahat buat sekadar dihina pembaca dan dibully tokoh utama, tapi antagonis yang paham dengan tindakan dan tujuannya dengan motif yang kuat.
Pada awalnya, Uri punya potensial sebagai antagonis pure evil. Fakta kalau dia paham mentalitas dari korbannya menunjukkan pemahaman yang bagus dalam segi emosional. Aku penasaran dengan tindakan yang akan diambilnya di masa sekarang, tapi ternyata gak terlalu berkesan. Dia cuma sekadar menghasut teman Gaeul dan ketika dikonfrontasi oleh Gaeul, dia hancur dalam sekejap.
Tapi aku suka bagaimana komikusnya menjadikan pengikut Uri, Hyeoksu yang merupakan korban bullying yang berubah menjadi pelaku. Aku juga suka bagian teman Gaeul (yang aku lupa namanya;) yang awalnya naksir Subin, tapi mundur setelah Gaeul memperingatinya dan akhirnya termakan manipulasi Uri.
Aku tahu ada banyak pembaca yang benci dia, tapi aku suka bagaimana komikus berusaha menunjukkan sudut pandang si teman ini. Dia lagi naksir cowok, tapi teman dia bilang kalau dia pelaku bully. Dia berusaha mendukung Gaeul karena gak mau dilihat sebagai simpatisan tindak kekerasan di sekolah.
Tapi nantinya Gaeul malah pacaran dan mesra-mesraan sama gebetan dia. Dan puncaknya, ada cewek cantik dan kelihatan baik dari sekolah yang sama dengan Gaeul dulu malah bilang kalau Gaeul menipunya dan menasihatinya supaya gak mudah percaya orang.
Bukan berarti aku membenarkan tindakan si teman, tapi sebagai pembaca yang melihat segalanya dari perspektif netral secara keseluruhan, aku paham kenapa dia berbuat begitu. Kompleksitas para tokoh, baik utama maupun sampingan inilah yang bikin aku cinta banget sama manhwa ini.
4. Winter (Dongchae's Flower)
Bagian terakhir dari Seasons of Flower. Dongchae's Flower berfokus pada tema bullying yang udah disentuh ringan sebelumnya. Walaupun Autumn juga mengangkat soal perisakan, tapi karena kejadiannya di masa lalu, fokusnya lebih kepada Gaeul yang berusaha mengalahkan monster dari masa lalunya, daripada bullying itu sendiri.
Winter merupakan akumulasi dari semua tema yang sudah disebut sebelumnya dan dikemas dalam klimaks yang emosional.
Di sini, selain kisah Dongchae yang cukup bikin depresi, pembaca juga diperlihatkan perkembangan hubungan Bomi-Jinyeong lebih jauh lagi. Jujur, aku ngerasa agak aneh dengan paralel cerita Dongchae dan Bomi-Jinyeong. Kalau di Autumn, masih masuk akal karena Seonhui dan Subin itu kakak adik.
Tapi yang ini benar-benar gak ada hubungannya sama sekali. Baik hubungan darah ataupun secara tema. Jadi pas baca bikin aku agak bingung mau ngerasa gimana. Di satu sisi, gemes sama momen manis Bomi-Jinyeong, tapi di sisi lain, sedih gegara kondisinya Dongchae and Eunchae.
Walaupun tema yang diangkat sangat menarik, sayangnya, aku gak merasa dekat dengan Dongchae. Kenapa? Soalnya dia gak kerasa kayak karakter sama sekali. Pembaca gak diperlihatkan emosi dan kepribadiannya selain kalau dia adalah korban bullying. Daripada karakter, Dongchae lebih terasa kayak plot device untuk mengeksekusi ide perkara bullying yang ingin dimasukkan oleh komikus.
Dibanding Dongchae, aku lebih suka penulisan untuk karakter Eunchae. Perasaannya untuk menolong Dongchae dengan segala cara, walaupun harus bergantung pada orang asing itu benar-benar menyentuh. Interaksinya dengan Jaemin juga manis. Awalnya aku ngira kalau mereka bakal jadi pasangan, tapi... (yang tau-tau ajalah ya, nanti spoiler)
Aku juga suka peran orang-orang dewasa di sini, terutama suster di sekolah mereka. Aku udah liat komentar-komentar yang meremehkan si suster sewaktu dia menawarkan pertolongan pada Dongchae. Ada beberapa yang bilang kalau suster ini gak bakalan ngelakuin apapun yang berguna. Jujur, itu bikin aku lumayan sedih.
Dengan cerita yang berfokus dengan remaja kayak Seasons of Blossom ini, orang dewasa memang merupakan salah satu tantangan paling besar bagi anak-anak. Aku paham banget. Tapi menyamaratakan semua orang dewasa karena perbuatan beberapa yang tidak bertanggung jawab itu gak adil menurutku. Remaja dan orang dewasa punya isu mereka masing-masing.
Sering kali mereka berbuat salah karena kesulitan masing-masing. Aku tahu banyak remaja yang mengalami hal berat karena perbuatan orang dewasa di sekitar mereka dan aku gak menyalahkan kalau mereka kehilangan kepercayaan pada orang lain.
Tapi aku juga gak suka pandangan yang menyalahkan semua orang atas kesalahan satu individu. Sama aja kayak orang Amerika (misalnya) bilang kalau semua orang Indonesia itu buruk karena perbuatan kriminal SATU orang Indo di luar negeri.
Jadi, yuk, kurang-kurangin stereotype buat kelompok tertentu hanya karena sebagian kecil representasi yang buruk.
Kembali ke cerita. Bagian favoritku dari Winter tentu saja klimaksnya yang bikin jantung lompat-lompat. Aku suka banget gimana komikusnya menunjukkan paralel scenes Jaemin-Hamin, Subin-Gaeul dengan Dongchae. Subin dan Jaemin tidak mampu melindungi orang yang paling mereka sayangi di masa lalu. Jadi dengan berhasil menyelamatkan Dongchae, mereka bisa dibilang 'menebus' kegagalan itu.
Serius, bagian Subin yang berusaha menggapai Gaeul, dilanjutkan dengan Jaemin dan Hamin sampai bagian Jaemin nangis, memohon pada Dongchae untuk bertahan, seolah sedang berbicara pada kakaknya sendiri... Bikin nangis banget. Angstnya gila-gilaan di sini.
Dengan konklusi akhir yang bahagia dan penuh harapan, Dongchae's Flower menjadi penutup yang solid dari Seasons of Blossom.
Selanjutnya, aku mau nerangin kelebihan dan kekurangan cerita ini secara umum.
Pros:
1. Teknik storytelling yang menarik
Dua hal yang paling menonjol dari storytelling manhwa ini adalah alur maju-mundur dan paralel. Komikusnya seneng banget nunjukin secuil momen di masa depan sebagai kejutan, lalu baru mundur ke belakang buat jelasin kenapa momen itu bisa terjadi.
Aku lumayan suka dengan pendekatan ini. Cerita sekolahan biasanya punya plot yang mudah ditebak, jadi gaya cerita seperti ini bikin alurnya jadi lebih menarik.
Untuk paralel, bisa dilihat paling jelas di Autumn karena kedua cerita berlangsung di masa sekarang. Di Summer sendiri, paralelnya muncul pada hubungan romantis Hamin-Somang di masa lalu dan hubungan platonik Jaemin-Somang di masa sekarang.
Untuk Winter, paralelnya muncul secara dramatik di bagian klimaks dengan Subin-Gaeul, Jaemin-Hamin dan Dongchae atas isu bullying yang menimpa mereka. Cuma Spring yang enggak terlalu menonjol unsur paralel ini.
2. Kesinambungan dari seluruh bagian
Tokoh-tokoh yang muncul di bagian sebelumnya juga punya porsi kedepannya, jadi para penggemar yang udah sayang sama tokoh-tokoh ini gak bakal sedih karena gak bisa ketemu lagi. Tokoh yang akan berperan penting di bagian berikutnya juga dimunculkan sebagai cameo sebelum kemunculan perdana mereka, seperti Hamin, Somang, Gaeul.
Selain para tokoh, kesinambungan ini juga paling bisa dirasakan dari segi tema umum yang diangkat, yaitu hidup remaja yang penuh lika-liku. Ada percintaan, pertemanan, dan kekeluargaan, baik sisi yang hangat maupun yang gelap. Eksekusi dari ide-ide ini juga memuaskan banget, dengan pesan moral yang penuh harapan.
3. Tokoh-tokoh yang kompleks
Seperti yang udah aku jelasin sebelumnya, salah satu kekuatan terbesar dari manhwa ini adalah karakterisasinya yang dalam. Tokoh-tokoh utama punya alasan yang kuat akan tindakan yang mereka lakukan di masa sekarang, dengan kekurangan dan kelebihan mereka masing-masing.
Bahkan tokoh sampingan pun diberi porsi cukup untuk menunjukkan sisi lain mereka yang lebih dalam, seperti suster (yang aku lupa namanya) atau teman Jinyeong yang agak gemuk (yang aku juga lupa namanya) di bagian Winter.
Cons:
1. Kebetulan yang super banyak
Awalnya sih aku ngerasa lucu aja, tapi lama-kelamaan agak menyebalkan juga. Gak sampai mengganggu pengalaman membacaku, tapi tetap bikin mengganjal. Tapi bukan masalah besar juga.
Peringkatku:
1. Summer (Hamin's Flower)
Aku bingung banget mau ngasih peringkat satu ke Summer atau Spring. Spring spesial buatku karena bikin gak bisa move on abis bacanya. Tapi kalau berusaha objektif, Summer emang yang paling solid.
Tema yang diangkat sangat mendalam, eksekusinya luar biasa, cara komikus menjalin masa depan dan masa lalu dengan mulus, dan tokoh-tokoh yang manusia banget. Aku gak punya komplain besar terkait bagian ini.
Mungkin masih ada yang bisa ditingkatkan, tapi secara garis besar, udah nyaris sempurna. Tapi kesempurnaan ini juga hasil dari set-up di bagian Spring, jadi kredit buat Spring juga.
2. Spring (Bomi's Flower)
Premisnya sendiri simpel, tapi aku suka banget cara komikusnya menggunakan trope-trope cerita roman picisan dan mengeksekusinya dengan unik sehingga terasa baru. Cinta banget:DD
3. Winter (Dongchae's Flower)
Klimaks yang luar biasa, menjadi konklusi untuk berbagai tokoh. Penutup yang sempurna.
4. Autumn (Gaeul's Flower)
Punya banyak potensial, sayangnya gak memenuhi ekspektasi. Bukan berarti ceritanya jelek, tapi kalau dibandingin dengan ketiga bagian yang lain, memang gak se-engaging itu buatku.
.
.
Demikianlah ulasan super intensifku untuk Seasons of Blossom. Aku cinta banget sama manhwa ini dan sangat-sangat-sangat merekomendasikan semua orang, baik muda maupun dewasa untutk membacanya. Paket komplit romantis paling manis dan angst paling sakit. Paling hati-hati aja karena ada trigger warningnya.
Oke. Sampai disini dulu review kali ini.
See you on the next one!
















0 Komentar